Kabupaten Boyolali membentang barat-timur sepanjang 49 km, dan
utara-selatan 54 km. Sebagian besar wilayahnya adalah dataran rendah dan
dataran bergelombang dengan perbukitan yang tidak begitu terjal.
Pemanfaatan
Bagian barat merupakan daerah pegunungan, dengan puncaknya
Gunung Merapi (2.911 m) dan
Gunung Merbabu (3.141 m), keduanya adalah gunung berapi aktif. Sedangkan di bagian utara (perbatasan dengan
Kabupaten Grobogan merupakan daerah perbukitan, bagian dari rangkaian
Pegunungan Kendeng.
Di bagian utara (perbatasan dengan
Kabupaten Sragen terdapat
Waduk Kedungombo.
Kabupaten Boyolali terdiri atas 19
kecamatan, yang dibagi lagi atas 262
desa dan 5
kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan
Boyolali.
Di samping
Boyolali, kota-kota kecamatan lainnya yang cukup signifikan adalah
Ampel,
Banyudono,
Mojosongo,
Simo,
Karanggede,
Andong,
Musuk dan
Selo. Kawasan
Ngemplak yang berbatasan langsung dengan Kota
Surakarta, kini telah dikembangkan menjadi pusat pertumbuhan
Solo Raya ke arah barat.
SEJARAHNYA...
Asal
mula nama BOYOLALI menurut cerita serat Babad Pengging Serat Mataram,
nama Boyolali tak disebutkan. Demikian juga pada masa Kerajaan Demak
Bintoro maupun Kerajaan Pengging, nama Boyolali belum dikenal. Menurut
legenda nama BOYOLALI berhubungan dengan ceritera Ki Ageng Pandan
Arang (Bupati Semarang pada abad XVI. Alkisah, Ki Ageng Pandan Arang
yang lebih dikenal dengan Tumenggung Notoprojo diramalkan oleh Sunan
Kalijogo sebagai Wali penutup menggantikan Syeh Siti Jenar. Oleh Sunan
Kalijogo, Ki Ageng Pandan Arang diutus untuk menuju ke Gunung
Jabalakat di Tembayat (Klaten) untuk syiar agama Islam. Dalam
perjalananannya dari Semarang menuju Tembayat Ki Ageng banyak menemui
rintangan dan batu sandungan sebagai ujian. Ki Ageng berjalan cukup
jauh meninggalkan anak dan istri ketika berada di sebuah hutan
belantara beliau dirampok oleh tiga orang yang mengira beliau membawa
harta benda ternyata dugaan itu keliru maka tempat inilah sekarang
dikenal dengan nama SALATIGA. Perjalanan diteruskan hingga sampailah
disuatu tempat yang banyak pohon bambu kuning atau bambu Ampel dan
tempat inilah sekarang dikenal dengan nama Ampel yang merupakan salah
satu kecamatan di Boyolali. Dalam menempuh perjalanan yang jauh ini,
Ki Ageng Pandan Arang semakin meninggalkan anak dan istri. Sambil
menunggu mereka, Ki Ageng beristirahat di sebuah Batu Besar yang
berada di tengah sungai. Dalam istirahatnya Ki Ageng Berucap “ BAYA
WIS LALI WONG IKI” yang dalam bahasa indonesia artinya “Sudah lupakah
orang ini”.Dari kata Baya Wis Lali/ maka jadilah nama BOYOLALI. Batu
besar yang berada di Kali Pepe yang membelah kota Boyolali mungkinkah
ini tempat beristirahat Ki Ageng Pandan Arang. Mungkin tak ada yang
bisa menjawab dan sampai sekarang pun belum pernah ada meneliti
tentang keberadaan batu ini. Demikian juga sebuah batu yang cukup
besar yang berada di depan Pasar Sunggingan Boyolali, konon menurut
masyarakat setempat batu ini dulu adalah tempat untuk beristirahat Nyi
Ageng Pandan Arang. Dalam istirahatnya Nyi Ageng mengetuk-ngetukan
tongkatnya di batu ini dan batu ini menjadi berlekuk-lekuk mirip
sebuah dakon (mainan anak-anak tempo dulu). Karena batu ini mirip
dakon, masyarakat disekitar Pasar Sunggingan menyebutnya mBah Dakon
dan hingga sekarang batu ini dikeramatkan oleh penduduk dan merekapun
tak ada yang berani mengusiknya.
This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
0 komentar:
Posting Komentar